Senin, 16 April 2012

THINK PAIR SHARE (TPS)


A.    PENDAHULUAN
Model pembelajaran Think-Pair-Share dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1981. Menurut Frank Lyman(1981) TPS merupakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh siswa selama proses pembelajaran dan memberikan kasempatan untuk bekerja sama antarsiswa yang mempunyai kemampuan heterogen.
Dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, “Think Pair Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain”.
Sedangkan menurut gunter Think-Pair-Share adalah pembelajaran dengan cara siswa saling belajar satu sama lain dan mendapatkan jalan keluar dari ide mereka setelah berdiskusi dan membuat ide mereka untuk didiskusikan dalam seluruh kelas (Gunter, 1999).
Hal senada juga disampaikan oleh Ibrahim, dkk, mereka menyatakan bahwa TPS (Think- Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Think-Pair-Share menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif, dari pada penghargaan individual ( Ibrahim dkk : 2000 ).
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran koopratif learning tipe Think-Pair-Share (TPS) adalah Model Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi atau tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Think-Pair-Share dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil.

http://3.bp.blogspot.com/-J1pSLd6uqOA/Th13CLqXZaI/AAAAAAAAAdQ/d43pwmb8keI/s320/thinkpairshare.jpg

      Think-Pair-Share merupakan model pembelajaran yang menggunakan teknik sederhana namun menghasilkan keuntungan yang besar. Think-Pair-Share dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think-Pair-Share juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan berpartisipasi dalam kelas. Think-Pair-Share sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thingking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).
Tujuan model pembelajaran Think-Pair-Share
Think-Pair-Share digunakan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Guru memberi informasi, hanya informasi yang mendasar saja, sebagai dasar pijakan bagi anak didik dalam mencari dan menemukan sendiri informasi lainnya. Atau guru menjelaskan materi dengan mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan anak sehingga memudahkan mereka menanggapi dan memahami pengalaman yang baru bahkan membuat anak didik mudah memusatkan perhatian. Karenanya guru sangat perlu memperhatikan pengalaman dan pengetahuan anak didik yang didapatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil dari Think-Pair-Share adalah untuk mengembangkan partisipasi siswa dalam kelas dengan berdiskusi dan meningkatkan pemahaman konsep. Dengan cara siswa saling belajar satu sama lain dan mendapatkan jalan keluar dari ide mereka setelah berdiskusi dan membuat ide mereka untuk didiskusikan dalam kelas (Gunter, 1999).
Tujuan pembelajaran koopratif learning tipe Think-Pair-Share antara lain :
·         Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial. Namun demikian menurut Ibrahim dkk (2000) dalam Suradi dan Djadir (3;2004), bahwa pembelajaran kooperatif juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja pebelajar dalam tugas ‑ tugas akademik. Para ahli mengemukakan bahwa model ini unggul dalam membantu pembelajar yang memiliki konsep‑konsep yang sulit. Struktur penghargaan pada pembelajaran kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian pebelajar pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Selain itu, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada pebelajar kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerjasama menyelesaikan tugas ‑ tugas akademik.

·         Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain dari model pambelajaran kooperatif adalah penerimaan terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, maupun kemampuan. Allport (Ibrahim, 2000) mengemukakan bahwa kontak fisik di antara orang‑orang yang berbeda ras atau kelompok etnis tidak cukup untuk mengurangi kecurigaan dan perbedaan ide. Pembelajaran kooperatif memungkinkan pebelajar yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu dengan yang lain atas tugas‑tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu dengan yang lain.
·         Pengembangan keterampildn social
Keterampilan sosial amat penting untuk dimiliki oleh masyarakat. Banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan di dalam masyarakat yang secara budaya beragam. Atas dasar itu, Ibrahim (2000) mengemukakan bahwa tujuan penting yang lain dari pembalajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada pebelajar keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
·         Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif pebelajar dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagairnana mempelajarinya. Pembelajar menerapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namun pebelajar diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pembelajaran kooperatif ingin menjadi sukses, materi pembelajaran yang lengkap harus tersedia di berbagai sumber belajar. Keberhasilan Juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan tradisional yaitu secara ketat mengelola tingkah laku pebelajar dalam kerja kelompok.
Sedangkan tujuan model pembelajaran tipe Think-Pair-Share menurut gunter antara lain sebagai berikut :
1. Menciptakan intraksi yang mendorong rasa ingin tahu, mencoba, dan ingin maju pada siswa.
2. Menjadikan proses belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
3. Menjadikan pembelajaran yang berpusat pada siswa
4. Menciptakan keterampilan-keterampilan sosial meliputi kerjasama, tenggang rasa, tolong menolong.

  1. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
  1. Pembelajaran dipusatkan kepada peserta didik.
  2. Peserta didik memikirkan jawaban dari permasalahan yang diberikan Guru.
  3. Peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk memecahkan masalah, mengidentifikasi kesenjangan dalam pembelajaran, dan mengembangkan pemecahan yang mungkin.
  4. Guru hanya berperan sebagai fasilitator.
  5. Permasalahan diperkenalkan diawal pembelajaran.
  6. Permasalahan digunakan sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.
  7. Peserta didik berbagi pendapat masing-masing pada teman kelompok.
  1.  KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE
Ciri utama pada model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yaitu langkah think (berpikir secara individual), pair (berpasangan dengan teman sebangku), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
1.      Think (berpikir secara individual)
Pada tahap think, guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan siswa diminta untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pada tahapan ini, siswa sebaiknya menuliskan jawaban mereka, hal ini karena guru tidak dapat memantau semua jawaban siswa sehingga melalui catatan tersebut guru dapat mengetahui jawaban yang harus diperbaiki atau diluruskan di akhir pembelajaran. Dalam menentukan batasan waktu untuk tahap ini, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, jenis dan bentuk pertanyaan yang diberikan, serta jadwal pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.

Kelebihan dari tahap ini adalah adanya “think time” atau waktu berpikir yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir mengenai jawaban mereka sendiri sebelum pertanyaan tersebut dijawab oleh siswa lain. Selain itu, guru dapat mengurangi masalah dari adanya siswa yang mengobrol, karena tiap siswa memiliki tugas untuk dikerjakan sendiri.

2.      Pair (berpasangan dengan teman sebangku)
Langkah kedua adalah guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. Setiap pasangan siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil akhir yang didapat menjadi lebih baik, karena siswa mendapat tambahan informasi dan pemecahan masalah yang lain.

3.      Share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi hasil pemikiran mereka dengan pasangan lain atau dengan seluruh kelas. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. Langkah ini merupakan penyempurnaan dari langkah-langkah sebelumnya, dalam arti bahwa langkah ini menolong agar semua kelompok menjadi lebih memahami mengenai pemecahan masalah yang diberikan berdasarkan penjelasan kelompok yang lain. Hal ini juga agar siswa benar-benar mengerti ketika guru memberikan koreksi maupun penguatan di akhir pembelajaran.






D.    SINTAK ATAU TAHAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  THINK PAIR SHARE
Langkah-langkah (syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share terdiri dari lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas yaitu think, pair, dan share. Kelima tahapan pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dapat dilihat pada tabel berikut:

Fase atau Tahapan
Perilaku guru
Fase 1 : Memberikan orientasi kepada peserta didik
Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap
     kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
-    Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa
Fase 2:
Think (berfikir secara individu)
-   Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi
-   Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa
-   Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu
Fase 3:
Pair (berpasangan dengan teman  sebangku)
-   Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya
-   Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas yang        telah dikerjakan
Fase 4:
Share (berbagi jawaban dengan pasangan lain)
-   Satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.
Fase 5:
Penghargaan
-   Siswa dinilai secara individu dan kelompok

Penjelasan dari setiap langkah adalah sebagai berikut:
a.        Tahap pendahuluan
Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar  pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan.

b. Tahap think (berpikir secara individual)
Proses think pair share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (“think time”) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.

c. Tahap pair (berpasangan dengan teman sebangku)
Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama.

d. Tahap share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka.

e. Tahap penghargaan
Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.

E.     KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  TIPE THINK PAIR SHARE

Ø  Keunggulan
Sanjaya (2006) menyatakan bahwa keunggulan pembelajaran Kooperatif sebagai suatu model pembelajaran diantarannya adalah sebagai berikut:
1.      Melalui model pembelajaran kooperatif peserta didik tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari peserta didik yang lain.
2.      Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.      Model pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.      Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap peserta didik untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.      Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waku, dan sikap positif terhadap sekolah.
6.      Melalui model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Peserta didik dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.      Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan peserta didik menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8.      Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.
Ø  Kelemahan
Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12).
Menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa) adalah:
1.      Pembelajaran yang baru diketahui, kemungkinan yang dapat timbul adalah sejumlah siswa bingung, sebagian kehilangan rasa percaya diri, dan bisa saling mengganggu antar siswa.
2.      Siswa-siswa yang pasif, dengan metode ini akan ramai dan bahkan memngganggu temannya.
3.      Siswa yang seharusnya menyelesaikan permasalahan dengan teman pasangannya, seringkali masih suka membicarakan kegiatan di luar materi pelajaran, menggantungkan pada pasangan dan kurang aktif dalam menemukan penyelesaian serta menanyakan jawaban dari soal tersebut pada pasangan atau kelompok yang lain.
4.      Jumlah siswa di dalam kelas juga berpengaruh. Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada pembentukan kelompok, hal ini bisa memperlambat proses diskusi. Pasangan lain telah menyelesaikan sementara satu siswa tidak mempunyai pasangan.
5.      Ketidak sesuaian antara waktu yang direncanakan dengan pelaksanaanya. Hal ini dikarenakan siswa suka megulur-ulur waktu dengan alasan pekerjaan belum selesai, sehingga berdampak siswa kurang menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya.
6.      Metode pembelajaran Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah.
7.      Sangat memerlukan kemampuan dan ketrampilan guru. Guru harus menyusun bahan ajar setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir anak.
8.      Mengubah kebiasaan siswa belajar dari cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan sendiri bagi siswa.


2 komentar:

riza azizi mengatakan...

Tolong diberikan sumber. Thanks

Anonim mengatakan...

tolong cantumkan sumber yg valid